Judul Buku: SUKU PELAUT DI LAUT SULAWESI: Satu Kajian Budaya Maritim Suku Bugis, Makassar, Bajo, Mandar, Buton, dan Muna di Sulawesi, Indonesia
Penulis: Ismail Ali, Ismail Suardi Wekke, Mosli Tarsat
Cetakan: I, Juli 2026
vi + 160 hlm; 15.5 x 23 cm
01-Rawa Aopa-publishing
ISBN: (Cetak)
ISBN: (Digital)
Harga: Rp. ,-
SINOPSIS
Laut bukan sekadar hamparan air yang memisahkan daratan. Bagi jutaan manusia yang hidup di pesisir Sulawesi dan gugusan kepulauannya, laut adalah rumah, jalan raya, sumber kehidupan, dan ruang spiritual yang tak terpisahkan dari denyut keseharian mereka. Pemahaman inilah yang menjadi jantung dari buku ini.
Sulawesi dengan empat semenanjungnya yang menjulur ke segala arah bagaikan bintang laut raksasaadalah salah satu laboratorium kebudayaan maritim paling kaya di dunia. Di sini, enam suku bangsa besar: Bugis, Makassar, Bajo, Mandar, Buton, dan Muna, telah mengembangkan hubungan yang unik dan mendalam dengan laut selama ribuan tahun. Mereka tidak sekadar menggantungkan penghidupan pada laut; mereka membangun identitas, filosofi, hukum, seni, dan teknologi yang sepenuhnya berakar dari dinamika samudera.
Buku ini lahir dari kegelisahan akademik sekaligus kepedulian budaya. Di tengah arus globalisasi yang deras, di tengah tekanan industri perikanan modern dan perubahan iklim yang mengancam ekosistem pesisir, pengetahuan-pengetahuan lokal tentang lautyang telah teruji ribuan tahunterancam terlupakan. Seorang nelayan Bajo yang mampu membaca kedalaman laut hanya dari warna airnya, seorang pandai perahu Bugis yang memahami sifat kayu dari tekstur serat dan aromanya, seorang navigator Mandar yang menentukan arah dari posisi bintang dan pola ombakmereka adalah penjaga ilmu pengetahuan yang tidak kalah berharganya dari perpustakaan manapun.
Penyusunan buku ini mengambil inspirasi dari tradisi penulisan etnografi maritim yang dirintis oleh para sarjana seperti B.J.O. Schrieke, James Warren, Clifford Sather, Gene Ammarell, dan Christian Pelras. Namun buku ini berupaya untuk tidak berhenti pada deskripsi akademis semata. Narasi ini ingin membawa pembaca masuk ke dalam dunia para pelaut Sulawesimerasakan angin yang sama yang menggembungkan layar phinisi, mendengar mantra yang dibisikkan ke lambung perahu sebelum mengarungi selat, dan memahami mengapa bagi suku Bajo, tanah daratan bisa terasa asing sementara dasar laut adalah taman yang familiar.

